JoomlaLock.com All4Share.net
Kisah Anggota Satgas Pamtas RI-Papua Nugini di Titik 0 Km Indonesia
Masyarakat bermain di titik Nol Km Indonesia di Merauke, Papua (Evi Ariska/JawaPos.com)

 

Bertugas di ujung timur Indonesia, tepatnya di daerah perbatasan RI-Papua Nugini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi aparat kepolisian atau TNI. Setiap hari petugas yang tergabung dalam Pamtas RI-Papua Nugini harus memastikan perlintasan masyarakat dari negara tetangga aman dan tidak menyalahi aturan masuk ke dalam teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Evi Ariska, Merauke

Dari Sabang sampai Merauke, siapa yang tak mengenal lagu nasional tersebut. Merauke merupakan titik paling ujung dari timur wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara Papua Nugini.

Kapolsek Distrik Sota Iptu Ma'ruf

Kapolsek Distrik Sota Iptu Ma'ruf (Evi Ariska/JawaPos.com)

 

Titik 0 Km Merauke - Sabang kini menjadi salah satu kawasan wisata yang banyak didatangi masyarakat dari seluruh penjuru tanah air. Bila memasuki kawasan titik akhir Indonesia ini, sopir yang mengantarkan wisatawan wajib melapor dan memberikan Kartu Tanda Penduduk (KTP) di pos lintas batas Satgas Pamtas RI-PNG.

Di perbatasan ini terdapat sebuah objek wisata yang menjadi incaran para wisatawan dari luar Papua maupun daerah lain Merauke. Selain alam yang indah, juga terdapat tugu 0 Km Merauke - Sabang. Titik ini menjadi simbol bagi seseorang bahwa dia telah berada di ujung timur Indonesia.

Di titik nol kilometer ini, masyarakatnya sudah terbiasa menyambut kedatangan para wisatawan. Beberapa kios penuh dengan dagangan pernak-pernik khas Papua.

Para pekerja wisata telah menyediakan pondok-pondok untuk bersantai. Pondok itu tertata rapi layaknya taman kota. Di ujung perbatasan juga terdapat ucapan selamat datang di Sota Perbatasan RI-PNG dengan warna merah putih seperti bendera negara Indonesia.

Kapolsek Distrik Sota Iptu Ma'ruf mengaku telah menjaga kawasan perbatasan RI - PNG selama 24 tahun. Kawasan itu selalu dijaga bersama dengan aparat TNI serta masyarakat sekitar.

"Sinergi TNI sama Polri dan masyarakat. Di sini kami sama-sama menjaga wilayah perbatasan ini," kata Ma'ruf saat ditemui JawaPos.com di Distrik Sota, Merauke, Minggu (4/2).

Selama 24 tahun itu, cerita Ma'ruf, dia tak pernah mendapati masalah yang serius di kawasan itu. Sebab masyarakat sekitar selalu menjalin hubungan harmonis baik itu warga Indonesia maupun Papua Nugini. "Paling tentang masyarakat, kesalahpahaman, tapi kami selesaikan juga secara adat istiadat," ungkapnya.

Sebagai daerah yang berada di perbatasan, Sota selalu dikunjungi masyarakat Papua Nugini. Umumnya kedatangan masyarakat negara tetangga itu untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.

Kendati melintasi negara lain, warga Papua tidak mesti harus menyertai dirinya dengan paspor. Setiap kali masuk wilayah NKRI, warga negara tetangga itu cukup diminta memperlihatkan border pass. "Mereka bawa dokumennya. Di sini kan masih lintas batas tradisional. Jadi mereka cukup menggunakan border pass," terang Ma'ruf.

Bagi pria yang baru sekali pulang kampung ke Magelang sejak 24 tahun bertugas di Papua itu, kedatangan masyarakat Indonesia dari sejumlah daerah ke perbatasan titik nol kilometer menjadi sebuah anugerah terbesar.

"Kami jauh dari keramaian, tapi kami dikunjungi saudara-saudara dari seluruh Indonesia. Itu sudah senang. Meski kami tidak bisa keliling Indonesia tapi saudara dari mana pun bisa datang ke perbatasan sini. Itu kebanggaan kita," ujarnya.

Bahkan, karena telah merasakan keramahan warga Papua, Ma'ruf berencana untuk menetap di perbatasan Indonesia ini. Khususnya di Distrik Sota. "Karena kami sudah ditugaskan, masyarakat sini sudah menerima, saya tetap mau di Papua, mau mengabdi di sini, jadi orang Papua di Sota," pungkasnya.

Senada dengan Ma'ruf, Satgas Perbatasan Sota RI-PNG Serda Agustinus Nenop mengatakan, selama dia dipindahkan tugas ke Distrik Sota, hubungan masyarakat Papua Nugini dan Indonesia selalu berjalan harmonis.

Sementara masalah perbedaan bahasa, kata dia, warga Papua Nugini selalu datang dengan membawa juru bahasa. "Mereka mempunyai juru bahasa karena sudah beda bahasa. Kita selalu sosialisasi dengan masyarakat," ujarnya saat ditemui di  lokasi yang sama.

(ce1/eve/JPC)

 

Bagikan ke Medsos !